Burung Pijantung Gunung

Pijantung Gunung (Arachnothera affinis) adalah spesies burung dari keluarga burung madu (Nectariniidae) yang dalam bahasa Inggrisnya dikenal dengan Streaky-breasted Spiderhunter.Burung jenis pijantung memiliki paruh yang lebih panjang dibanding dengan burung madu atau yang biasa disebut sebagai burung kolibri di Indonesia oleh para penghobi burung.Postur tubuhnya juga lebih besar dan memiliki kebiasaan terbang sangat cepat menyelinap di sela-sela kawasan yang rimbun.
Burung Pijantung Gunung
img credited to http://ibc.lynxeds.com/

Burung ini berukuran sekitar 17 cm, berwarna hijau dan abu-abu. Tubuh bagian atas hijau-zaitun. Tubuh bagian bawah abu-abu dengan coretan hitam halus pada tenggorokan dan dada yang khas (membedakannya dari jenis-jenis pijantung yang lain). Burung remaja belum memiliki coretan. Coretan pada populasi di Sumatera tidak semencolok ras A.a. affinis. Iris berwarna coklat, paruh atas hitam, paruh bawah lebih pucat, kaki coklat kemerah-jambuan

Terdapat 2 sub spesies burung ini dengan daerah penyebaran hidup yang berbeda.Diantaranya adalah sebagai berikut:
  • everetti (Sharpe, 1893) – Kalimantan bagian utara dan tengah. Ciri: coretan hitam halus pada tenggorokan dan dada cukup banyak.
  • affinis (Horsfield, 1821) – Jawa dan Bali.
Burung Pijantung paling umum terdapat di hutan kering di pesisir, hutan dataran rendah, perbukitan, dan pertumbuhan sekunder sampai ketinggian 1000 mdpl. Biasanya hidup sendirian. Sering mengunjungi rumpun pisang liar dan pohom-pohon yang sedang berbunga, seperti dadap Erythrina. Sering terlihat jauh di atas tanah. Terbang cepat dan rendah di hutan seperti Pijantung kecil.

Berbagai suara serak, menusuk berdering “cii-wii-dii-wiit, tii-rii, cicii-chur”, suara “ciwk” seperti bersin sewaktu terbang.Suara kicaunya bisa kalian dengarkan di bawah ini.
  1. Suara burung pijantung gunung
Semoga bermanfaat dan salam kicau mania.
Refferensi penulisan dari hasil diatas dikutip dari situs Wikipedia dan juga Kutilang.or.id
2 Komentar untuk "Burung Pijantung Gunung"
Back To Top